Jumat, 26 Juli 2013

Gajah Sumatera ditemukan mati tanpa gading

BANDA ACEH – Seekor gajah sumatra jantan ditemukan mati di Desa Ranto Sabon, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, Minggu (14/7). Saat ditemukan, gajah berumur 30 tahun itu dalam kondisi leher terputus dan sudah tidak memiliki gading yang panjangnya lebih dari 1 meter.
Ketua Ranger Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Mukhtar, menyebutkan bahwa gajah jantan tersebut mati sekitar tiga hari silam.

“Gajah tersebut mati bukan diracun, tapi terkena perangkap besi yang sangat tajam sehingga leher gajah terputus. Saat kami temukan, masih terlihat ceceran darah di sekitar bangkai gajah,” ujar Mukhtar.

Ia mengakui, tim dari CRU Sampoiniet yang terdiri dari Ranger, Mahot (perawat gajah), dan Polisi Hutan Kabupaten Aceh Jaya menemukan bangkai gajah jantan tersebut saat sedang melakukan patrol rutin.

“Saat sedang berpatroli, warga melaporkan ada gajah mati di kebun yang sudah tidak dimanfaatkan warga. Saat kami temukan, gading gajah tersebut sudah tidak ada,” ujar mantan penebang kayu ilegal tersebut.

Mukhtar menyebutkan, sebelumnya memang ditemukan gajah mati di pinggiran hutan Kecamatan Sampoiniet.

“Namun kali ini, seperti sengaja dipasang perangkap untuk diambil gadingnya, terlebih gajah yang mati tersebut sudah sangat tua dan memiliki gading yang panjang,” kata Mukhtar.

Mukhtar menambahkan, gajah jantan yang diberi nama Geng (pemberani) tersebut memang sering berada di pinggiran hutan Kecamatan Sampoiniet, namun keberadaan gajah tersebut tidak merusak seperti kawanan gajah yang lain.

“Gajah itu memang selalu berada di sekitar kebun penduduk, malah ketika kami usir dia tidak mau lari. Tapi dia tidak merusak, hanya berjalan di sekitar perkebunan warga,” kata Mukhtar.

Ia juga menyebutkan, selain sering berada di sekitar perkebunan warga, gajah itu juga beberapa kali masuk ke pekarangan CRU Sampoiniet, Aceh Jaya, namun  lagi-lagi tidak mengganggu Ranger atau Mahot yang menginap di posko.

“Malah, gajah jantan itu pernah kawin dengan gajah jinak yang berada di CRU dan sekarang gajah betina itu telah melahirkan anak berumur sepuluh bulan,” Mukhtar menambahkan.

Proses Hukum Lemah
Mukhtar berharap aparat penegak hukum, khususnya polisi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) segera menyelidiki kasus kematian gajah jantan tersebut sehingga ke depan tidak lagi terulang kasus yang sama.

“Kami warga Kecamatan Sampoiniet, tidak mau ke depan anak cucu kami tidak lagi mengenal gajah karena telah musnah,” ungkap Mukhtar.

Sebelumnya, aktivis lingkungan di Aceh, Ratno Sagita menyebutkan, meskipun sebagian besar satwa liar telah dimasukkan dalam kategori dilindungi, namun lemahnya penegakan hukum belum bisa memberikan rasa aman bagi berbagai jenis satwa liar tersebut. Hingga kini, satwa liar masih terus ditangkap untuk berbagai kepentingan oleh banyak pihak.

Ratno menyebutkan, setiap tahun, pembunuhan gajah masih terus terjadi. Satwa bertubuh besar tersebut tidak hanya diburu untuk diambil gadingnya lalu di jual di pasar gelap, tapi juga dibunuh karena dinilai kerap mengganggu perkebunan, khususnya kelapa sawit.

“Data yang berhasil dikumpulkan, pada 2012, sekitar 15 bangkai gajah sumatra ditemukan di sejumlah provinsi. Gajah tersebut diperkirakan kemungkinan besar dibunuh," kata dia.

Jumlah tersebut, ujar Ratno, jauh lebih tinggi daripada 2011 yang hanya ditemukan sekitar lima ekor gajah mati.

“Dibandingkan tahun 2012 dengan 2011, terjadi kenaikan jumlah kematian gajah sekitar 10 ekor," ujar Ratno.

Ia mengatakan, biasanya gajah dibunuh dengan cara diracun untuk diambil gading atau dibunuh karena dianggap hama yang merusak perkebunan khususnya kelapa sawit.  

Pada 2012, bangkai gajah ditemukan di sejumlah daerah di Aceh, sebut saja Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie, Aceh Jaya, dan Aceh Selatan. Ratno menambahkan, sebagian besar gading gajah dari Aceh, biasanya dijual ke Medan, Sumatra Utara, dengan harga yang sangat tinggi. Kemudian dari Sumut, gading gajah dibawa ke luar negeri melalui pelabuhan-pelabuhan kecil.

Ratno juga mengatakan, sejak 2003 hingga 2013, belum pernah terdengar adanya proses hukum terhadap penangkap, pemburu, dan pemelihara, atau penjual satwa yang dilindungi di Aceh. 

Sumber : Sinar Harapan

Sabtu, 20 Juli 2013

...


Who Am i...?

Me, Myself and I

 this is me . . . 



last smile


Still here and waiting your smile . . .

Hei You . . .





and finally . . . i'm trying to focused on u (",)

lovely Vespa

trenteng.... trenteng.... trenteng.... trenteng.... 
Naek Vespa dan akhirnya Mogok.....

Me and Orangutan . .





ini adalah sepenggal cerita dariku... hanya suatu hal yang biasa di hari yang biasa tetapi dengan cara yang istimewa... (^_^)



Minggu, 02 Desember 2012

Oh My God

Kekerasan terhadap kaum wanita masih saja sering terjadi salah satunya adalah pemerkosaan, dan inilah peristiwa terburuk pemerkosaan di tahun lalu (2009) dimana kaum wanita menjadi pemerkosaan massal dalam sepanjang tahun tersebut yang salah satunya terjadi akibat konflik antar faksi yang bertikai di Kongo, Benua Afrika

Lebih dari 8.000 perempuan di Republik Demokratik Kongo (DRC) mengalami pemerkosaan sepanjang tahun 2009, yang ditengarai dilakukan oleh faksi-faksi yang berperang, baik tentara pemberontak maupun tentara pemerintah.
Menurut laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Dana Populasi (UNFPA), Senin (8/2/2010), tentara pemberontak suku Hutu (FDLR) diyakini sebagai pihak yang paling banyak melakukan pemerkosaan. “(Namun) anggota-anggota tentara nasional (FARDC) juga melakukan kekerasan seksual di Provinsi Kivu Utara dan Selatan,” ungkap UNFPA.
Badan-badan kemanusiaan memang memuji upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah DRC untuk mengakhiri praktik pemerkosaan oleh tentaranya. Namun, UNFPA melihat Pemerintah Kongo masih perlu berbuat banyak dalam memastikan jangan sampai mereka yang bersalah lolos dari hukuman. Republik Demokratik Kongo (DRC)—untuk membedakan dengan negara tetangganya, Republik Kongo—merupakan negara yang telah bertahun-tahun dilanda perang saudara.
Dalam lima tahun terakhir, konflik yang terus bergejolak di negara bekas jajahan Belgia itu melibatkan tentara Pemerintah DRC—yang didukung Zimbabwe, Angola, dan Namibia—dengan milisi pemberontak—yang didukung Rwanda dan Uganda.
Kendati kesepakatan damai dan pembentukan sebuah pemerintahan transisi telah ditandatangani pada tahun 2003, pertikaian terus berlangsung, terutama di wilayah bagian timur. Di wilayah itu pemerkosaan dan kekerasan seksual lainnya terhadap perempuan kerap terjadi dan disebut-sebut merupakan yang terburuk di dunia. Konflik berdarah selama lima tahun terakhir dilaporkan telah menewaskan jutaan warga, termasuk mereka yang terkena dampak perang sehingga mengalami kelaparan dan didera berbagai penyakit.
Melalui mandat Dewan Keamanan tahun 1999, PBB mengirimkan pasukan penjaga perdamaian untuk memantau pelaksanaan perjanjian Lusaka tahun 1999, yakni kesepakatan gencatan senjata antara DRC dan kelima negara di kawasan Afrika tengah, yakni Zimbabwe, Angola, dan Namibia. Pasukan penjaga perdamaian PBB di DRC (MONUC) saat ini berkekuatan sekitar 5.500 tentara dan 500 pemantau militer dari puluhan negara, termasuk Indonesia.
Sumber: Kompas
Sungguh memilukan, perjalanan hidup umat manusia di belahan bumi lain yang kita saksikan di media-media ini, kapankan perdamaian dan kasih sayang antar umat manusia di dunia ini bisa terwujud? Apa yang telah kita lakukan pada lingkungan kita untuk menebar kedamaian dan kasih sayang?
http://ruanghati.com/2010/02/09/inilah-peristiwa-pemerkosaan-terburuk-di-dunia/

Rabu, 07 Maret 2012

Orion

Orion or Orion stars, is a constellation that is often touted as the hunter. This constellation is perhaps the most famous constellations and easily recognizable in the sky. Javanese people know the row of three belt stars (ζ, ε, and δ) and a row of three sword stars (M43, M42, and ι) as the plow constellation ("Star Pirate"). Brightness of the stars lie on the celestial equator and visible from all over the world, making this constellation widely known.

Orion the hunter standing next to the river Eridanus with his pursuer two dogs, Canis Major (big dog) and Canis Minor (small dog), against the Taurus, the bull. Other prey such as Lepus, the hare, are also nearby.

ORION history, as a bright constellation, Orion has been recognized by many ancient civilizations, though with a different picture.

Ancient Sumerians saw this star pattern as a sheep, while in ancient China, Orion was one of 28 zodiac Xiu (宿). Known as Shen (), which literally means "three", this constellation may be named for the three stars located in Orion's belt. See also the Chinese constellations.

These stars are considered as the God of Light, Osiris by the ancient Egyptians.

"The belt and sword" Orion are often cited in the literature of ancient and modern, and also recognized the symbol of the shoulder to the 27th Infantry Division U.S. Army during both world wars. This may be caused by the division's first commander was Major General John F. O'Ryan.

Austronesian sailors used it as an auxiliary pointing an imaginary line east-west. Javanese farmers to use as a guide during the start of the cultivation of rice in rainfed rice

Rabu, 30 November 2011

no reason here . . .

when it all goes properly, I was hoping there's still one point of hope to live all this with a certainty that I am still there in your heart ...
and that once existed in our journey, there is still hope that even just one small point that increasingly motion blur?

The Hope

Take a break for a while from wrong life

Skip Away . . .

God Never bring me this so far just to leave me alone